Thursday, 27 August 2020

REVIEW MI BAND 5

 

Assalamualaikum sahabat whoopy! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan sehat ya!

Pada postingan kali ini, saya ingin mencoba sedikit mereview salah satu smartwatch yang laris manis di pasaran yang diproduksi oleh perusahaan xiaomi nih guys! Siapa yang nggak kenal xiaomi? Brand asal China yang mengekspansi Indonesia melalui pangsa pasar smartphone ini ternyata memiliki beberapa produk lain, tak hanya smartphone saja, tetapi xiaomi sempat mengeluarkan produk seperti televisi, powerbank, action cam, smartwatch dan sebagainya. Baru-baru ini, Xiaomi baru saja merilis produk smartwatch baru, yakni Mi Band 5 yang dilaunching pada 30 Juni lalu, dan baru masuk pasar Indonesia pada tanggal 20 Agustus 2020. Tidak seperti pendahulunya, Mi Band 5 memiliki beberapa keunggulan seperti kemudahan dalam melakukan charging (karena tidak perlu melepas Mi Band dari strap dan sudah dilengkapi charging magnetik), layar yang lebih besar, dilengkapi dengan beberapa aplikasi tambahan seperti fitur PAI dan fitur kesehatan wanita. Masalah ketahanan dan build quality, Mi Band 5 tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya, seperti Mi Band 4 misalnya, hanya berbeda di kapasitas battery dan aplikasi bawaan yang ditanamkan.


First Impression and User Experience
Pertama kali melihat desain Mi Band 5 ini, cukup simpel dan elegan menurut saya. Kalau mau ganti warna strap juga mudah, Xiaomi menyediakan beberapa varian warna strap untuk Mi Band 5. Penggunaannya juga tidak ribet, user interfacenya sederhana dan pairingnya juga mudah. Tidak harus punya HP xiaomi untuk bisa mengintegrasikan smartwatch Mi Band 5, karena Mi Band 5 mendukung berbagai perangkat seperti android dan iphone, namun ada minimal spesifikasinya guys. Dengan menggunakan smartwatch ini, saya jadi semangat buat olahraga nih, soalnya kegiatan workout yang kita lakukan bisa secara langsung tersimpan dalam sistem Mi Band. Seperti misalnya olahraga bersepeda, lari, jogging, lompat tali, berenang dan sebagainya. Kita juga bisa memeriksa  detak jantung kita selama melakukan kegiatan olahraga. Bahkan, ada goal yang bisa kita set untuk mencapai berat tubuh yang ideal. Langkah kita juga bisa dicatat lho guys! Sudah berapa jumlah langkah kita bisa otomatis tercatat pada perangkat Mi Band! Canggih bener... jadi, sistemnya itu perhari, ada jumlah minimal langkah yang harus kita capai atau kita lakukan agar tubuh tetap sehat dan bugar.

Harga
Kalau masalah harga, xiaomi memang terkenal paling "miring" di antara pesaing lain. Smartwatch Mi Band 5 ini dihargai Rp. 449.000 saja guys, cukup worth it dengan berbagai fitur yang tertanam pada gawai ini. Mumpung masih hype dan ada diskon besar, silahkan kalian langsung kunjungi saja marketplace seperti shopee, Tokopedia, jd.id dan website resmi Xiaomi untuk mendapatkan smartwatch ini sebelum stocknya habis guys!

Mungkin itu saja review singkat dari saya, semoga bermanfaat dan sampai bertemu lagi di review-review berikutnya :)

Thursday, 2 July 2020

MUDAHNYA BERBAGI



Assalamualaikum sahabat whoopy semua! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat ya! Apalagi di tengah wabah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Mudah-mudahan kita dihindarkan dari virus tersebut, dan pastinya kita berdoa agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir, aamiin!

Pada kesempatan ini, saya ingin posting tentang gimana mudahnya melakukan sedekah, zakat maupun transaksi lainnya yang berkenaan dengan kegiatan sosial kemanusiaan hanya dengan aplikasi. Jaman sudah semakin maju dan berkembang, manusia yang tadinya tidak memiliki teknologi yang cukup efektif dan efisien untuk aktivitas mereka, saat ini justru semakin dipermudah dengan beragam teknologi canggih yang sangat membantu dalam kegiatan sehari-hari. 

Salah satunya, kita sebut saja handphone. Dahulu kita hanya mengenal telepon sebagai alat komunikasi dengan bentuk agak besar dan kabel yang terhubung serta sulitnya untuk dibawa ke mana-mana. Alat yang ditemukan pada abad ke-18 ini kelak menjadi cikal bakal ditemukannya telepon genggam hingga telepon pintar (smartphone) yang kita kenal saat ini. Smartphone seolah sudah jadi kebutuhan primer kita, jika sehari saja kita tidak menggunakan smartphone, maka kita seolah kembali lagi ke jaman batu. Ketika bangun tidur, yang dicari pertama kali ya handphone.

Terlepas dari ketergantungan tersebut, ada banyak sekali manfaat yang dapat kita temui pada smartphone kita, salah satunya yaitu kemudahan untuk melakukan transaksi apapun hanya dengan menggunakan aplikasi yang terinstall pada smartphone kita. Kita bisa bayar pajak kendaraan, bayar tagihan listrik, menabung, atau bahkan membeli barang kebutuhan lainnya hanya dengan smartphone, tak terkecuali juga dengan membayar sedekah maupun zakat.

Sekarang kalian tidak usah repot-repot untuk melakukan pembayaran sedekah maupun zakat secara konvensional, hanya dengan menggunkan aplikasi, di manapun dan kapanpun kalian sudah bisa melakukan sedekah maupun zakat dengan efektif dan efisien, karena tidak lagi terbatas tempat, ruang, maupun waktu. 

Sbnarnya banyak sekali aplikasi yang menyediakan jasa layanan pembayaran sedekah dan zakat, tapi saya ingin merekomendasikan untuk menggunakan aplikasi mizanamanah. Jadi, Mizan Amanah ini adalah yayasan Amil Zakat nasional yang sudah memiliki pengalaman selama puluhan tahun dalam mengelola dana untuk digunakan bagi kemaslahatan umat, diantaranya adalah menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.

Cara menggunakan aplikasi mizanamanah juga sangat mudah, kalian hanya perlu mendownloadnya saja di Play Store bagi pengguna Android dan App Store bagi pengguna iPhone.

Tampilan aplikasi mizanamanah.




(Banyak sekali menu pilihan / program yang disediakan mizanamah, jadi tidak hanya fokus kepada Infaq sedekah atau zakat saja)


(Tampilan untuk program infaq sedekah. Jadi, pada setiap program akan ada penjelasan singkat terkait program tersebut, sehingga sebelum kita berdonasi, kita sudah mengetahui apa saja manfaatnya, jenis-jenisnya maupun keutamannya)


(Tampilan program zakat. Selain ada penjelasan singkat, kita juga diberitahu bagaimaa cara menghitungnya)


Cara melakukan transfer:

1. Kalian tinggal pilih saja programnya. Misalnya kalian ingin melakukan infaq sedekah.



2. Kemudian nanti akan muncul pilihan jenis sedekah. Tinggal pilih lagi saja, lalu akan muncul tampilan seperti ini:


3. Setelah itu pilih donasi, kemudian akan muncul nominal donasi. Kalian bisa pilih nominal yang tersedia atau ingin menyumbang dengan nominal tertentu. Setelah itu, kalian isi data diri dan klik donasi.


4. Jika sudah, kalian bisa memilih jenis transfer yang diinginkan, apakah ingin menggunakan Go-Pay, Credit/Debit Card, ATM/Bank Transfer, atau Akulaku.


5. Selanjutnya, kalian tinggal bayar/selesaikan proses transaksi melalui petunjuk yang diberikan. Nanti akan ada notifikasi melalui email teman-teman jika transaksi sudah berhasil.


Nah, gimana? Cukup mudah bukan prosesnya? Jadi, bagi kalian yang punya rezeki lebih, silahkan kalian berbagi dengan sesama. Caranya juga mudah, tidak ribet, sasarannya tepat, dan yang pasti materi yang kita sumbangkan inshaallah dapat dikelola dengan amanah :) ya.. selain mencari materi duniawi, apa salahnya kita juga mencari bekal untuk di akhirat kelak kan? Yang terpenting bukan jumlah nominalnya, tpi keikhlasannya.






Sunday, 1 March 2020

CHORD TAK LAGI SAMA - RIZKY FEBIAN




F#                    
Ketika

                      F#7 
Hasrat tak lagi sama

               B
Cinta tak lagi sempurna

       Bm7
Karena kehilangan arah

F#
Inginnya

           F#7
Ku tetap pertahankan

         B
Dan tetap menjalani

Bm7
Hari demi hari


F#                       
Apapun yang kau rasakan

B
Bagaimana kau menolak

C#m7                B
Rasa ini akan tetap sama


Reff:

 F#
Aku kan bertahan

      F#7
Cinta bukan tentang perasaan

      B
Tapi janji yang terucap

Bm7
Terucap makna cinta

 F#
Aku kan bertahan

      F#7
Cinta bukan tentang perasaan

    B
Tapi janji yang terucap

Bm7
Terucap makna cinta


F#
Inginnya

           F#7
Ku tetap pertahankan

         B
Dan tetap menjalani

Bm7
Hari demi hari


F#                       
Apapun yang kau rasakan

B
Bagaimana kau menolak

C#m7                B
Rasa ini akan tetap sama

*Back to reff

Sunday, 19 January 2020

CARA MENGUBAH JENIS NOMOR DAN MENGHAPUS NOMOR HALAMAN PADA MS. WORD (BAGIAN 2)


Assalamualaikum sahabat whoopys! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja ya! :)

Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas berkenaan dengan tips bagaimana cara membuat letak nomor halaman yang berbeda pada Ms. Word. Nah, sekarang pada bagian 2 ini, saya ingin memberikan tips tentang bagaimana cara mengubah jenis nomor dan menghapus nomor halaman pada Ms. Word. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Silahkan kalian klik insert - page number - format page number - number format - pilih angka romawi, kemudian klik OK!

2. Jika sudah, silahkan klik lagi insert - page number - bottom of page - plain number 2. Sekarang nomor halaman teman-teman sudah berubah jenisnya menjadi angka romawi :)

3. Kemudian untuk mengubah jenis angka tersebut kembali ke default pada halaman tertentu, silahkan kalian pilih dulu halaman mana yang akan diubah, kemudian klik page layout - breaks - next page.

4. Selanjutnya, klik bagian footer, lalu jangan lupa checklist different first page (lihat pada postingan sebelumnya), kemudian klik page number - format page number - pilih angka sebelumnya - lalu pilih start at 1 seperti pada gambar di bawah ini:



5. Nah, lalu bagaimana cara menghapus nomor tanpa mempengaruhi nomor halaman yang lain? Silahkan pilih halaman yang nomor halamannya ingin dihapus, tapi sebelumnya kita nonaktifkan link to previous pada halaman yang sebelumnya sudah dichecklist different first pagenya.



6. Jika sudah, silahkan blok nomor yang ingin dihapus, klik page number - remove page number (jangan gunakan tombol delete yang ada pada keyboard ya!)

Tambahan: jika yang ingin dihapus itu di halaman pertama, jangan lupa checklist dulu different first pagenya.

Untuk tutorial lengkapnya, silahkan tonton videonya di youtube saya! :)


CARA MEMBUAT LETAK NOMOR HALAMAN YANG BERBEDA PADA MS. WORD (BAGIAN I)


Assalamualaikum sahabat whoopys! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja ya! :)

Oke, pada postingan kali ini, saya ingin berbagi tips kepada kalian tentang bagaimana cara membuat letak nomor halaman yang berbeda pada Ms. Word. Pasti banyak dari kalian yang mungkin masih bingung gimana caranya mengatur settingan supaya nomor halaman pada word tidak otomatis, sehingga sulit untuk di edit atau diatur posisi nomornya. Biasanya pada karya ilmiah, seperti skripsi (salah satunya) ada aturan mengenai penomoran halaman. Jadi, tiap Bab baru itu, nomor harus berada di bawah, dan halaman selanjutnya, nomor ada di bagian kanan atas halaman. Jika hanya mengandalkan format nomor tanpa disetting, maka otomatis nomor akan mengikuti sistem yang berurutan, dari halaman 1 hingga akhir posisinya tidak dapat diubah. Sebenarnya ada trik khusus supaya nomor halaman berikutnya bisa diubah posisinya. Berikut akan saya berikan langkah-langkah yang harus kalian lakukan:

1. Pada halaman awal (atau halaman yang ingin disetting), kalian pisahkan dengan cara klik tombol page layout - breaks - next page. Fungsi next page ini untuk memisahkan halaman yang dipilih dengan halaman selanjutnya.

2.Jika sudah, silahkan klik bagian footer (bawah dokumen yang dipilih) lalu checklist different first page, seperti pada gambar berikut:


Jadi, fungsi different page number ini untuk membedakan antara halaman pertama dan halaman selanjutnya.


3. Selanjutnya, pilih insert - page number - bottom of page - plain number 2.

4. Nah, sudah ada nomornya, tinggal kita ke page selanjutnya, kemudian klik bagian header (atas dokumen), lalu kita klik lagi insert - page number - top of page - plain number 3

Silahkan lihat, sekarang nomor halaman selanjutnya sudah berbeda posisi tanpa merubah posisi halaman sebelumnya :)

Untuk lebih jelasnya, silahkan kalian tonton saja tutorialnya di youtube saya! :)


Sunday, 15 December 2019

CHORD LEBIH DARI EGOKU - MAWAR DE JONGH





Intro: Cmaj7 Fm7

Cmaj7      Fm7
Sulit bagiku

Am7         Gm7  C9
Menghadapi kamu

Dm7                Em7  Am7
Tapi ku takkan menyerah

    Dm7             G
Kau layak kuperjuangkan


Cmaj7      Fm7
Perih bagiku

Am7         Gm7  C9
Menahan marahku

Dm7             Em7  Am7
Tapi ku akan lakukan

    Dm7           G
Bahkan lebih dari itu


Reff:

    Cmaj7               G
Aku yang minta maaf walau kau yang salah

   Am7                     Gm7      C9
Aku kan menahan walau kau ingin pisah

    F
Karena kamu penting

Em7       Am7
Lebih penting

Dm7                G
Dari semua yang ku punya

Cmaj7               G
Jika kamu salah aku akan lupakan

      Am7                Gm7      C9
Walau belum tentu kau lakukan yang sama

  F                 Em7       Am7    Dm7  G
Karena untukku kamu lebih penting dari egoku


Cmaj7      Fm7
Perih bagiku

Am7         Gm7  C9
Menahan marahku

Dm7             Em7  Am7
Tapi ku akan lakukan

    Dm7           G
Bahkan lebih dari itu

*Back to reff



Monday, 28 October 2019

CERITANYA CERITA: BERKUNJUNG KE MONUMEN JOGJA KEMBALI



Assalamualaikum sahabat whoopys! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat-sehat saja ya! Aamiin! :)

Pada postingan kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika berkunjung ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) yang lumayan sudah agak lama sebenarnya. Tapi karena banyak footage yang sudah saya ambil, maka sayang jika tidak dishare dengan teman-teman semua. Ya, barangkali ada dari kalian yang ingin berkunjung ke Monjali, jadi postingan ini bisa sekaligus menjadi bahan referensi untuk kalian yang berencana berkunjung ke sana.

Kalau tidak salah, saya mengunjungi Monjali pada akhir bulan Juli kemarin. Sebenarnya saya pergi ke sana karena ketidaksengajaan dan tidak direncanakan. Tadinya hanya ingin tes accu motor apakah terisi ketika digunakan untuk perjalanan jarak jauh, daripada tanpa tujuan, akhirnya saya memutuskan sekalian saja cabut ke Jogja, toh nggak terlalu jauh dari Temanggung, cuma sekitar 2 jam an. Singkat cerita, sampailah saya di Monjali. Kesan pertama ketika sampai, ternyata sepi sekali. Tidak heran sebenarnya, karena memang saya berkunjung pada hari kerja. Monjali terletak di Jl. Ringroad Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY. Nggak begitu jauh dari ringroad kok, belok kiri lebih kurang 1 Km sudah sampai di Monjali yang ada di sebelah kiri jalan. Nampak jelas terlihat bentuk bangunan mirip kerucut dan tulisan besar Museum Monumen Jogja Kembali yang berada di depan area Monjali.

Sesampainya saya di Monjali, sayapun segera masuk ke dalam dan membayar tiket sebesar Rp. 10.000, kalau untuk hari libur saya kurang tahu, mungkin ada di kisaran Rp. 15.000 - Rp. 20.000. Begitu saya masuk, agak amaze juga dengan suasana serta luas area dari Monjali ini. Berhubung saya belum pernah berkunjung ke Monjali sebelumnya, saya agak bingung juga harus pergi ke mana dulu. Karena, waktu itu benar-benar sepi sekali, nyaris tidak terlihat ada pengunjung lain yang saya temui. Seolah-seolah, hanya saya sendiri dan beberapa petugas Monjali saja yang berada di sana. Pertama datang, saya langsung terpaku pada bekas peralatan tempur (senjata artileri, PSU kaliber) yang sudah tidak aktif. Tanpa berpikir panjang, saya ambil HP dari saku kanan saya, lalu mengabadikannya.





Selain itu, ada juga pesawat perang yang sudah tidak terpakai (replika pesawat guntai dan cureng), dan taman bermain anak-anak. Sembari menikmati sekeliling, saya kemudian menuju ke arah Museum berbentuk kerucut yang nampak dari kejauhan. Disepanjang perjalanan, saya melihat beberapa hal menarik seperti adanya daftar nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 - 29 Juni 1949.


Lalu, ada sebuah kolam buatan yang mengelilingi Museum yang ternyata setelah saya dekati, ada sejumlah Ikan mas di dalamnya yang sangat banyak. Di pinggir kolam, kebetulan ada satu kotak khusus yang berisi makanan ikan seharga Rp. 2000 yang bisa kita beli di tempat secara langsung untuk memberi makan ikan-ikan yang ada di sana. Cukup menyenangkan.

Sekedar info, Monjali ini adalah monumen yang dibangun sebagai bentuk peringatan ditariknya kembali tentara Belanda dari ibu kota RI yang saat itu adalah Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Kejadian tersebut sekaligus menjadi tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari pemerintahan Belanda. Bentuk kerucut dari bagunan utama museum dimaksudkan sebagai perlambang dari gunung merapi, kesuburan tanah, dan pelestarian budaya.

Setelah puas bermain-main dengan ikan, akhirnya saya masuk ke dalam museum. Sempat saya bertemu beberapa rombongan anak-anak SMP yang sedang melakukan studi tour. Lumayan banyak juga ternyata, saya kira pada waktu itu hanya saya sendiri saja yang ada di Monjali. Ketika masuk ke museum, saya langsung disambut oleh petugas yang sangat ramah mengucapkan salam dan mempersilahkan saya masuk ke dalam. Gedung utama museum sendiri terdiri dari 3 lantai, lantai pertama, dua, dan tiga. Lantai pertama ada semacam replika, atau benda-benda sejarah yang tersimpan dalam ruangan-ruangan khusus (kalo sendirian agak takut juga, soalnya sepi banget). Kemudian ada auditorium untuk menonton dokumenter sejarah bagi mereka yang melakukan studi tour. Berikut beberapa foto dan video yang saya ambil di lantai pertama:








Tandu asli yang dipakai Jendral Sudirman ketika perang Gerilya




Senjata hasil rampasan para tentara penjajah


Bambu runcing milik K.H. Subkhi & K.H. R. Sumo Gunardo

Microphone yang sering digunakan pada masa itu

Diorama para angkatan bersenjata pada masa penjajahan beserta senjata yang digunakan

Kemudian di lantai ke-2, ada semacam diorama yang berbentuk melingkar dengan konsep cerita sejarah. Cukup bagus sih, selain bisa wisata, kita dapat pengetahuan juga. Ketika kita ada di lantai 2, nanti kita akan melihat sejumlah ruangan kaca melingkar dengan patung-patung replika pada masa kemerdekaan dulu. Selain itu, ada suaranya juga ketika kita lihat ke salah satu diorama tersebut. Jadi, nggak cuma berbentuk keterangan dalam bentuk tulisan, tapi juga ada penjelasan melalui audio. Berikut, beberapa foto yang saya ambil di lantai 2:




Selanjutnya lantai 3. Di lantai 3 ini, lumayan gelap, jadi saya nggak sempat ambil foto. Tapi, di lantai paling atas ini dikhususkan untuk mereka yang ingin mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur. Bentuk ruangannya seperti auditorium dengan relief seperti burung garuda dan lingkaran yang menonjol di tengah ruangan.

Mungkin itu saja postingan kali ini guys, semoga bermanfaat. Bagi kalian yang kebetulan sedang berada di Jogja, saya sarankan untuk mampir ke Monjali. Selain kalian bisa berwisata, kalian juga bisa mendapatkan pengetahuan sejarah Indonesia. Dijamin nggak akan nyesel kalo mampir ke Monjali. Harga tiketnya juga cukup terjangkau.

Tuesday, 22 October 2019

[PUISI]



URIP IKU URUP

Katanya jangan seperti lilin. Sebab,
lilin hanya menerangi sekeliling, namun
tak terang pada dirinya.

Katanya lagi, jangan menjadi seperti api. Sebab,
dia membakar segalanya tanpa ampunan.

Lalu apa makna urip iku urup?

"Itu pepatah jawa," tandasnya jelas. Urip iku
kudu urup. Artinya, "hidup itu harus menyala."
Menyala buat sendirinya, terlebih sesamanya.

(Temanggung, 2019)

[PUISI]



MENARI DI TEPIAN BATAS NAFSU
Pesona lekuk tubuh indahmu membuat liurku mengalir.
Wajah nan ayu, kulit seputih susu,
seolah jadi lambaian surga di batas neraka.

Aku yang katanya alim seolah tersandra nafsu.
Bila sadar, aku segera lari ke langgar
sambil menengadahkan tangan meminta ampun.
Nyatanya benar kata orang, "ujian lelaki
adalah harta, tahta, wanita."

Meski abai pada dua diantaranya, namun
yang satunya seolah menancap lama
pada lamunan hingga aku seraya berkata,
"Sini! Dekaplah, dan menari bersamaku."

(Temanggung, 2019)

[PUISI]



MAAF, SEKEDAR MENGINGATKAN!

Bila salah, ingatkan!
Bila lalai, ingatkan!
Bila lupa, ingatkan!
Bila ingat, kerjakan!

(Temanggung, 2019)

[PUISI]



KACAMATA KUDA

Waktu itu celetuk Bapak:
"Nak, masih ingat teman masa kecilmu?
Sekarang ia mengabdi untuk negara.
"

Tak terasa cemas apalagi panas,
senyum simpul jadi senjata yang pas.
Padahal, sebenarnya dalam hati aku pilu.
Namun, aku tetiba teringat andong dengan kudanya.
Tak lihat kiri dan kanan, cukup menatap lurus
akibat kacamata kuda yang ia kenakan.

(Temanggung, 2019)

[PUISI]



TERBIASA BIASA

Ini bukan curhat apalagi sambat.
Sekedar mengungkapkan apa yang tertambat.
Kala itu sadarku membawa pesan,
belum sempat kubaca bila itu pertanda.

Sebenarnya apa yang buat manusia resah?
Mungkin karena tidak bisa mewujud sempurna.
Andaikata dia diberi segalanya,
mungkinkah sudah dapat emas masih minta berlian?

Ah, sadar jika aku bukan siapa-siapa.
Tak seperti lainnya yang lenggang senang.
Kadang benci harus seperti ini.
Tadinya aku yakin akan diri sendiri,
namun nyatanya, terlalu lama biasa,
sehingga terbiasa biasa.

(Temanggung, 2019)

[PUISI]



SENANDUNG PUISI ALAM

Riuh ramai kota, bosan dibuatnya!
Sejenak ingin pergi di mana si hijau pemeran utamanya.
Hela nafas sejenak melambat saat itu.
Seketika terhenyak melihat indahnya sekelilingku

Si batang yang menyimpan bulir padi seolah menari
Pagi itu, embun pagi tak ubah bagai bedak
Mempercantik setiap tampilan si hijau

Sejuknya...

Tak hanya sejuk kudapat, tapi rasa nyaman.
Burung-burung ketika itu tak henti bernyanyi riang,
menyambut pagi yang tak selamanya akan terjadi,
seperti cuit, cuit, fuhh, wushh....

Suara deras aliran sungai pun tak kalah indahnya.
Sinergi antar kesemuanya, tak bisa dilupa.

(Temanggung, 2017)

[PUISI]


KRITIS

Kulihat berita-berita yang mengulas ulah para politisi itu
Ketika yang diberi amanah saling fitnah, dan saling sindir tak karuan
Tak menarik! timpal ku dalam hati. Semua itu sudah terlalu biasa
Hal tak berguna yang dipertontonkan sang pemangku kebijakan
Bosan....bosan sekali melihat mereka!!
Mendadak inginku jadi seorang yang apatis saja. Karena tak ada untungnya,
orang dengan idealisme tinggi saat ini pun akan luluh bila diberi umpan jabatan.

Siapa yang tak mau duduk manis dibelakang skenario kehidupan orang banyak?
Siapa? Kamu? Kau? Mereka? Kita?

Negara ini terlalu kasihan bila harus berakhir seperti ini saja.
Dia tak salah apa-apa. cukup dengan candaan yang tak lucu ini!
Jangan sampai keadaan ini memaksa leviathan muncul ke permukaan.
Tak mau bila aku hidup dalam keadaan seperti Hobbes.

Tolong jangan buat negeri ini tak berbudi lagi karena saling benci.
Aku tak mau tanah tumpah darah ini hanya jadi tanah rebutan kekuasaan.
Penindasan tak lagi dalam bentuk fisik, tapi lebih sadis dari itu.
Hak kita dirampas tanpa adanya rasa iba dari mereka para "spesialis".
Kita dipaksa bungkam dan percaya pada apa yang dikatakan.

Tidak ada yang merasa bersalah sebelum adanya inkrah.
Semua pesakitan yang menjadi sumber cerita dianggap tukang fitnah.
bosan bosan bosan....sudah bosan aku dengan semua cerita itu.
(Cianjur, 2017)

[PUISI]



DUA PRIA DI LORONG TELKOM

Tak jelas maksudnya apa
Tak jelas tujuan nya apa
Hanya sekedar bertemu dan berkelakar
Mencari secercah pelajaran dari sebuah pertemuan

Namun sungguh gila….tak ada yang berguna
Obrolan sepanjang waktu tak melulu serius
Hanya sekedar guyonan dan akal bulus
Begitulah 2 pria alumni kampus

Mengikis habis pemikiran kritis
Cuma bertanya lalu menanggapi
Di lorong ini, kami hanyabergurau
Berselancar di internet sambil mengiggau

(Oktober, 2016)

[PUISI]



BILANG

Bilang padanya kalau aku ada..
Bilang aku ada padanya..
Bilang..bilang..bilang..
Bilang saja kalau semua itu bohong..

(April, 2016)

[PUISI]


JATUH

Terjatuh hanya masalah waktu.
Tak ada manusia yang kokoh berdiri.

(April, 2016)

[PUISI]



SI HITAM TERLUPA OLEH INDUKNYA

Suara ringkih lirih dari si hitam menusuk tajam
Dia terdiam sendiri di pojokkan pintu
Dengan tubuh lemah dan rapuh
Mulanya si hitam punya 3 saudara
Namun sayang tak lama mereka bersama

Induknya kepalang gila
Anaknya tersisa satu namun tak terurus
Yang tersisa hanya tulang terbungkus kulit
Melihat itu hatiku sakit terlilit
"Dasar induk gila!!" kataku...

Entah mengapa si hitam terus berjuang
Seolah dia tak ingin mati cepat
Dia tetap cintai induknya
Meski induknya tak mau lagi bercengkrama
Sungguh Malang nian nasibmu

Si hitam terlupa oleh induknya.
Tetaplah hidup sampai tiba saatnya.

(September, 2016)

Iklan