Monday, 28 October 2019

CERITANYA CERITA: BERKUNJUNG KE MONUMEN JOGJA KEMBALI



Assalamualaikum sahabat whoopys! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat-sehat saja ya! Aamiin! :)

Pada postingan kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika berkunjung ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) yang lumayan sudah agak lama sebenarnya. Tapi karena banyak footage yang sudah saya ambil, maka sayang jika tidak dishare dengan teman-teman semua. Ya, barangkali ada dari kalian yang ingin berkunjung ke Monjali, jadi postingan ini bisa sekaligus menjadi bahan referensi untuk kalian yang berencana berkunjung ke sana.

Kalau tidak salah, saya mengunjungi Monjali pada akhir bulan Juli kemarin. Sebenarnya saya pergi ke sana karena ketidaksengajaan dan tidak direncanakan. Tadinya hanya ingin tes accu motor apakah terisi ketika digunakan untuk perjalanan jarak jauh, daripada tanpa tujuan, akhirnya saya memutuskan sekalian saja cabut ke Jogja, toh nggak terlalu jauh dari Temanggung, cuma sekitar 2 jam an. Singkat cerita, sampailah saya di Monjali. Kesan pertama ketika sampai, ternyata sepi sekali. Tidak heran sebenarnya, karena memang saya berkunjung pada hari kerja. Monjali terletak di Jl. Ringroad Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY. Nggak begitu jauh dari ringroad kok, belok kiri lebih kurang 1 Km sudah sampai di Monjali yang ada di sebelah kiri jalan. Nampak jelas terlihat bentuk bangunan mirip kerucut dan tulisan besar Museum Monumen Jogja Kembali yang berada di depan area Monjali.

Sesampainya saya di Monjali, sayapun segera masuk ke dalam dan membayar tiket sebesar Rp. 10.000, kalau untuk hari libur saya kurang tahu, mungkin ada di kisaran Rp. 15.000 - Rp. 20.000. Begitu saya masuk, agak amaze juga dengan suasana serta luas area dari Monjali ini. Berhubung saya belum pernah berkunjung ke Monjali sebelumnya, saya agak bingung juga harus pergi ke mana dulu. Karena, waktu itu benar-benar sepi sekali, nyaris tidak terlihat ada pengunjung lain yang saya temui. Seolah-seolah, hanya saya sendiri dan beberapa petugas Monjali saja yang berada di sana. Pertama datang, saya langsung terpaku pada bekas peralatan tempur (senjata artileri, PSU kaliber) yang sudah tidak aktif. Tanpa berpikir panjang, saya ambil HP dari saku kanan saya, lalu mengabadikannya.





Selain itu, ada juga pesawat perang yang sudah tidak terpakai (replika pesawat guntai dan cureng), dan taman bermain anak-anak. Sembari menikmati sekeliling, saya kemudian menuju ke arah Museum berbentuk kerucut yang nampak dari kejauhan. Disepanjang perjalanan, saya melihat beberapa hal menarik seperti adanya daftar nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 - 29 Juni 1949.


Lalu, ada sebuah kolam buatan yang mengelilingi Museum yang ternyata setelah saya dekati, ada sejumlah Ikan mas di dalamnya yang sangat banyak. Di pinggir kolam, kebetulan ada satu kotak khusus yang berisi makanan ikan seharga Rp. 2000 yang bisa kita beli di tempat secara langsung untuk memberi makan ikan-ikan yang ada di sana. Cukup menyenangkan.

Sekedar info, Monjali ini adalah monumen yang dibangun sebagai bentuk peringatan ditariknya kembali tentara Belanda dari ibu kota RI yang saat itu adalah Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Kejadian tersebut sekaligus menjadi tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari pemerintahan Belanda. Bentuk kerucut dari bagunan utama museum dimaksudkan sebagai perlambang dari gunung merapi, kesuburan tanah, dan pelestarian budaya.

Setelah puas bermain-main dengan ikan, akhirnya saya masuk ke dalam museum. Sempat saya bertemu beberapa rombongan anak-anak SMP yang sedang melakukan studi tour. Lumayan banyak juga ternyata, saya kira pada waktu itu hanya saya sendiri saja yang ada di Monjali. Ketika masuk ke museum, saya langsung disambut oleh petugas yang sangat ramah mengucapkan salam dan mempersilahkan saya masuk ke dalam. Gedung utama museum sendiri terdiri dari 3 lantai, lantai pertama, dua, dan tiga. Lantai pertama ada semacam replika, atau benda-benda sejarah yang tersimpan dalam ruangan-ruangan khusus (kalo sendirian agak takut juga, soalnya sepi banget). Kemudian ada auditorium untuk menonton dokumenter sejarah bagi mereka yang melakukan studi tour. Berikut beberapa foto dan video yang saya ambil di lantai pertama:








Tandu asli yang dipakai Jendral Sudirman ketika perang Gerilya




Senjata hasil rampasan para tentara penjajah


Bambu runcing milik K.H. Subkhi & K.H. R. Sumo Gunardo

Microphone yang sering digunakan pada masa itu

Diorama para angkatan bersenjata pada masa penjajahan beserta senjata yang digunakan

Kemudian di lantai ke-2, ada semacam diorama yang berbentuk melingkar dengan konsep cerita sejarah. Cukup bagus sih, selain bisa wisata, kita dapat pengetahuan juga. Ketika kita ada di lantai 2, nanti kita akan melihat sejumlah ruangan kaca melingkar dengan patung-patung replika pada masa kemerdekaan dulu. Selain itu, ada suaranya juga ketika kita lihat ke salah satu diorama tersebut. Jadi, nggak cuma berbentuk keterangan dalam bentuk tulisan, tapi juga ada penjelasan melalui audio. Berikut, beberapa foto yang saya ambil di lantai 2:




Selanjutnya lantai 3. Di lantai 3 ini, lumayan gelap, jadi saya nggak sempat ambil foto. Tapi, di lantai paling atas ini dikhususkan untuk mereka yang ingin mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur. Bentuk ruangannya seperti auditorium dengan relief seperti burung garuda dan lingkaran yang menonjol di tengah ruangan.

Mungkin itu saja postingan kali ini guys, semoga bermanfaat. Bagi kalian yang kebetulan sedang berada di Jogja, saya sarankan untuk mampir ke Monjali. Selain kalian bisa berwisata, kalian juga bisa mendapatkan pengetahuan sejarah Indonesia. Dijamin nggak akan nyesel kalo mampir ke Monjali. Harga tiketnya juga cukup terjangkau.

No comments:

Post a comment

Iklan